Khotbah

Menjadi Saksi Allah Tritunggal

Oleh: Pdt. Dr. Irvan Hutasoit 30 Mei 2026 Kategori: Ibadah Minggu

Nas

Matius 28:16-20

Menjadi Saksi Allah Tritunggal
Matius 28:16–20
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,
Kita hidup dalam era yang sering disebut sebagai Revolusi Industri 4.0. Salah satu ciri utama zaman ini adalah ledakan informasi. Melalui telepon genggam di tangan kita, hampir seluruh pengetahuan dunia dapat diakses dalam hitungan detik. Kita dapat menemukan ribuan artikel tentang Alkitab, menonton ratusan khotbah, mendengarkan kuliah teologi dari berbagai universitas, bahkan memperoleh penjelasan tentang doktrin Allah Tritunggal hanya dengan mengetik beberapa kata di mesin pencari. Secara paradoks, ketika pengetahuan semakin mudah diperoleh, manusia justru semakin mengalami krisis makna, krisis identitas, dan krisis relasi. Kita mengetahui banyak hal, tetapi tidak selalu menghidupi yang kita ketahui itu. Kita dapat menjelaskan kasih, tetapi tidak selalu mampu hidup dalam kasih. Kita dapat berbicara tentang persekutuan, tetapi sering hidup dalam keterasingan dan perseteruan. Kita dapat menjelaskan Allah Tritunggal secara teologis, tetapi belum tentu hidup dalam kehidupan Allah Tritunggal.

Keadaan ini mengingatkan kita bahwa pengetahuan sejati tidak lahir hanya dari informasi. Banyak pemikir modern mengkritik pandangan, pengetahuan hanya diperoleh melalui konsep dan teori. Dalam tradisi fenomenologi, manusia mengenal dunia terutama melalui pengalaman hidupnya. Seseorang dapat membaca seratus buku tentang persahabatan, tetapi ia baru benar-benar memahami persahabatan ketika ia mempunyai sahabat atau ketika dia benar-benar ditinggalkan oleh orang lain. Seseorang dapat membaca banyak teori tentang kasih, tetapi ia baru memahami kasih ketika ia dikasihi. Demikian pula dengan iman. Kita dapat menghafal rumusan doktrin Allah Tritunggal, tetapi kita baru mengenal Allah ketika kita mengambil bagian dalam kehidupan-Nya. Pengetahuan tentang Allah bukan pertama-tama pengetahuan intelektual, melainkan pengetahuan yang lahir dari perjumpaan, partisipasi, dan perjumpaan dengan-Nya dalam setiap realitas hidup.

Di sinilah Amanat Agung yang diberikan Yesus kepada para murid memperoleh makna yang sangat mendalam. Ketika Yesus berkata, “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Mat. 28:19-20). Yesus sebenarnya tidak sedang memberikan program pendidikan biasa atau pendidikan formal sebagaimana lazimnya kita saksikan. Ia sedang mengundang manusia masuk ke dalam kehidupan Allah sendiri. Menarik bahwa sebelum berbicara tentang pengajaran, Yesus terlebih dahulu berbicara tentang baptisan dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Dengan kata lain, seseorang terlebih dahulu dimasukkan ke dalam persekutuan Allah Tritunggal, baru kemudian diajar untuk menghidupi kehidupan itu.

Kata yang digunakan Yesus untuk “mengajar” adalah didaskō. Dalam pemahaman modern, mengajar sering dipahami sebagai transfer pengetahuan. Guru menjelaskan, murid mendengarkan. Guru memberi informasi, murid menerima informasi. Namun dalam tradisi Yesus dan dunia Yahudi, didaskō memiliki makna yang jauh lebih dalam. Mengajar berarti membentuk kehidupan. Seorang rabi tidak hanya mengajar apa yang harus diketahui oleh muridnya, tetapi mengajar bagaimana murid itu harus hidup. Karena itu, tujuan pengajaran Kristen bukan sekadar membuat orang mengetahui lebih banyak tentang Allah, melainkan membentuk manusia agar hidup menurut kehendak Allah.

Di sini kita dapat berdialog dengan pemikiran teolog Ortodoks modern, John Zizioulas. Dalam karya-karyanya, Zizioulas mengembangkan pemikiran para Bapa Gereja dengan sebuah pernyataan yang terkenal: being is communion, keberadaan adalah persekutuan. Menurutnya, persoalan terbesar manusia modern adalah kecenderungan memahami dirinya sebagai individu yang berdiri sendiri. Kita diajarkan untuk menjadi mandiri, kompetitif, dan berpusat pada diri sendiri. Akibatnya, manusia modern sering merasa kesepian meskipun hidup di tengah keramaian. Zizioulas mengingatkan, keberadaan yang sejati hanya mungkin dalam relasi. Kita menjadi pribadi bukan karena kita terpisah dari orang lain, tetapi karena kita hidup dalam persekutuan dengan orang lain.

Pemikiran ini sebenarnya berakar pada pemahaman Kristen tentang Allah Tritunggal. Allah yang kita sembah bukanlah Allah yang hidup dalam kesendirian. Sejak kekekalan, Allah adalah persekutuan kasih antara Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Bapa mengasihi Anak. Anak mengasihi Bapa. Roh Kudus mempersatukan keduanya dalam kasih yang sempurna. Karena itu, realitas terdalam dari keberadaan Allah bukanlah kekuasaan, melainkan persekutuan. Allah adalah kasih karena sejak semula Allah hidup dalam relasi kasih.

Jika demikian, maka didaskō dalam Amanat Agung dapat dipahami sebagai proses membimbing manusia masuk ke dalam cara keberadaan Allah Tritunggal. Gereja tidak hanya dipanggil mengajar tentang Allah Tritunggal. Gereja dipanggil mengajar manusia untuk hidup seperti Allah Tritunggal. Gereja dipanggil membentuk manusia yang mampu hidup dalam kasih, dalam relasi, dalam persekutuan, dan dalam saling memberi diri. Dengan demikian, pengajaran Kristen bukanlah pendidikan agama semata, melainkan pembentukan manusia yang mengambil bagian dalam kehidupan Allah.

Walau demikian, Yesus tidak berhenti pada kata didaskō. Ia melanjutkan dengan kata tērein, yang biasanya diterjemahkan “melakukan” atau “menuruti.” Kata ini sebenarnya memiliki makna yang lebih kaya. Tērein berarti menjaga, memelihara, merawat, dan tinggal dengan setia. Oleh karena itu, Yesus tidak hanya berkata, “Ajarlah mereka mengetahui,” tetapi “Ajarlah mereka memelihara dan menghidupi.” Dengan demikian, tujuan pengajaran bukan pengetahuan, melainkan partisipasi yang terus-menerus dalam kehidupan yang telah diterima.

Di sinilah pemikiran para Bapa Gereja menjadi sangat relevan. Mereka memahami keselamatan bukan sekadar pengampunan dosa, tetapi partisipasi dalam kehidupan Allah. Athanasius pernah mengatakan bahwa Allah menjadi manusia supaya manusia dapat mengambil bagian dalam kehidupan Allah. Pernyataan ini bukan berarti manusia menjadi Allah dalam hakikat-Nya, tetapi manusia diundang untuk hidup dalam kasih, kekudusan, dan persekutuan yang berasal dari Allah sendiri. Oleh karena itu, tērein berarti tinggal dalam kehidupan Allah Tritunggal setiap hari. Kita belajar memandang sesama sebagaimana Bapa memandang Anak. Kita belajar mengasihi sebagaimana Kristus mengasihi gereja. Kita belajar membangun persekutuan sebagaimana Roh Kudus mempersatukan umat Allah.

Jika kita membaca Amanat Agung dengan cara ini, maka makna kesaksian menjadi sangat berbeda. Selama ini kita sering memahami saksi sebagai orang yang berbicara tentang Kristus. Tentu hal itu benar. Namun kesaksian Kristen yang paling mendalam bukanlah perkataan, melainkan partisipasi. Dunia akan mengenal Allah Tritunggal ketika melihat kehidupan umat-Nya. Dunia akan memahami kasih Bapa ketika gereja menjadi komunitas yang menerima dan mengasihi. Dunia akan memahami pengorbanan Anak ketika gereja menjadi komunitas yang melayani dan memberi diri. Dunia akan memahami karya Roh Kudus ketika gereja menjadi komunitas yang mempersatukan, menyembuhkan, dan membangun kehidupan bersama.

Dalam konteks itulah, menjadi saksi Allah Tritunggal berarti mengajar dan menghidupi cara keberadaan Allah Tritunggal. Didaskō adalah mengantar manusia masuk ke dalam misteri kehidupan Allah. Tērein adalah memelihara dan menghidupi kehidupan itu setiap hari. Dan kesaksian lahir ketika kehidupan Allah Tritunggal menjadi nyata dalam keluarga, dalam jemaat, dalam pelayanan, dan dalam masyarakat.

Di tengah dunia yang dipenuhi informasi tetapi miskin relasi, gereja dipanggil bukan sekadar menjadi pusat pengetahuan keagamaan. Gereja dipanggil menjadi ikon Allah Tritunggal. Ketika dunia melihat persekutuan yang saling mengasihi, saling menerima, saling menopang, dan saling melayani, dunia sedang melihat pantulan kehidupan Allah Tritunggal. Dan ketika itu terjadi, gereja sedang menjalankan Amanat Agung yang sesungguhnya: membentuk murid yang bukan hanya mengetahui Allah Tritunggal, tetapi hidup di dalam Allah Tritunggal. Dalam konteks itulah kita dapat memahami tema besar Renstra GKPI 2025–2030: "Menjangkau yang Belum Terjangkau." Tema ini bukan sekadar program kelembagaan gereja. Tema ini sesungguhnya berakar pada identitas Allah sendiri. Gereja menjangkau yang belum terjangkau karena Allah terlebih dahulu menjangkau manusia. Gereja bergerak keluar karena Allah adalah Allah yang bergerak keluar. Gereja mencari yang jauh karena Allah terlebih dahulu mencari manusia yang jauh dari-Nya.

Di dalam teologi kontemporer, hal ini sering disebut sebagai Missio Dei, misi Allah. Gereja tidak memiliki misi. Yang dijalankan gereja dalah misi Allah. Gereja ada karena Allah sedang bekerja di dunia. Gereja diutus untuk mengambil bagian dalam gerakan kasih Allah yang terus berlangsung dalam sejarah.

Ketika GKPI berbicara tentang menjangkau yang belum terjangkau, sesungguhnya yang sedang dibicarakan tidak sekedar soal memperluas wilayah pelayanan. Yang sedang dibicarakan adalah memperluas ruang persekutuan. Yang belum terjangkau adalah mereka yang belum merasakan kasih yang memulihkan. Yang belum terjangkau adalah mereka yang hidup dalam kesepian, keterasingan, konflik, kemiskinan, ketidakadilan, dan kehilangan harapan. Kepada mereka itulah gereja diutus.

Dunia modern sedang mengalami krisis relasi yang sangat serius. Teknologi semakin maju, tetapi manusia semakin terisolasi. Komunikasi semakin cepat, tetapi pengertian semakin dangkal. Media sosial menghubungkan jutaan orang, tetapi banyak orang merasa semakin kesepian, bahkan begitu mudah untuk menciptakan permusuhan. Masyarakat semakin kompetitif, sehingga sesama manusia sering dipandang sebagai pesaing, bukan sebagai saudara.

Dalam situasi seperti ini, kesaksian terbesar gereja bukanlah argumentasi yang paling canggih. Kesaksian terbesar gereja adalah menghadirkan komunitas yang berbeda dari dunia. Sebuah komunitas yang menunjukkan bahwa manusia dapat hidup dalam kasih, saling menerima, saling menopang, dan saling membangun. Sebuah komunitas yang memperlihatkan bahwa kehidupan bersama masih mungkin diwujudkan.

Dalam rangka itu, menjangkau yang belum terjangkau tidak hanya berarti pergi ke tempat yang jauh. Kadang-kadang yang belum terjangkau justru berada sangat dekat dengan kita: tetangga yang kesepian, keluarga yang retak, generasi muda yang kehilangan arah, masyarakat yang terpecah oleh kepentingan politik dan ekonomi. Mereka semua membutuhkan pengalaman tentang kehidupan Allah Tritunggal yang diwujudkan dalam tindakan nyata gereja.

Di sinilah didaskō dan tērein menemukan relevansinya bagi Renstra GKPI. Kita mengajar (didaskō) bukan hanya melalui kata-kata, tetapi melalui pembentukan komunitas yang mencerminkan kehidupan Allah. Kita memelihara (tērein) kehidupan itu dengan terus merawat relasi, persekutuan, dan solidaritas di tengah jemaat dan masyarakat. Dan ketika gereja hidup demikian, ia menjadi saksi Allah Tritunggal yang autentik.

Akhirnya, menjadi saksi Allah Tritunggal berarti berpartisipasi dalam misi Allah bagi dunia. Sebagaimana Bapa mengutus Anak, dan Anak mengutus Roh Kudus, demikian pula Roh Kudus mengutus gereja. Gereja dipanggil keluar dari kenyamanannya untuk menjangkau yang belum terjangkau. Tetapi yang dibawa gereja kepada dunia bukan sekadar berita tentang Allah Tritunggal. Yang dibawa gereja adalah kehidupan Allah Tritunggal itu sendiri: kehidupan yang ditandai oleh kasih, persekutuan, penerimaan, dan pembangunan kehidupan bersama.